MENCARI TUKANG SERVICE DI KOTA SUCI

1 min read

MENCARI TUKANG SERVICE DI KOTA SUCI

Namanya eletronik atau sejenisnya mungkin saja bisa rusak, entah karena faktor usia atau cuaca, atau mungkin saja faktor kelalaian atau ketidak sengajaan. Baik itu jenis kamera, handphone atau jam tangan, atau jenis eletronik lainnya.

 

Jika kita berada di belahan negara Indonesia, tukang service bertebaran dimana mana, mulai dari service Ac sampai service jam tangan pun ada. Bahkan setiap meter kadang bermacam tukang reperasi kita kan temui. Mereka bisa mengganti sparepart yang rusak dan mengakali kerusakan tersebut dengan trik dan cara yang unik. Dan jika barang tersebut sudah tidak bisa dipergunakan pun masih bisa dijual bangkainya.

 

Tapi jangan coba coba jika kita berada di Tanah suci, keadaan seperti di negara kita nampaknya tidak berlaku di negeri yang terkenal dengan onta dan padang pasirnya. Saat kita menelusuri pasar pasar kota Makkah dan madinah, kita tidak akan pernah menemui tukang service jam ataupun eletronik lainnya.

 

Sepertinya penduduk negeri kaya petrol ini tidak suka dengan barang servisan, atau barang bekas dan rekondisi. Bagi mereka membeli barang semacam itu nantinya hanya akan menyusahkan mereka dan membuang waktu saja. Oleh karena itu jika barang sudah rusak maka mereka lebih cenderung membuangnya di tempat sampah daripada memperbaiki barang tersebut. Maka jika kita berjalan dengan bis dari Makkah menuju Madinah atau sebaliknya, ditengah perjalanan kita akan melihat ada beberapa mobil yang ditinggal oleh pemiliknya begitu saja. Bayangkan kalau hal itu terjadi di Indonesia, jangankan bangkai mobil, ban mobil pun bisa disulap menjadi mata pencaharian.

 

Banyak beberapa jamaah Haji atau Umroh asal Indonesia yang tidak mengetahui hal tersebut, sehingga ada sebagian jamaah saat jam tangan nya rusak, mereka berkeliling pasar untuk mencari tukang service khusus jam tangan. Alhasil bukan tukang service yang ditemui namun rasa lelah dan letih yang mereka dapat.

 

Oleh sebab itu saat jam tangan atau jenis eletronik lainnya rusak, sebaiknya jangan berusaha untuk memperbaikinya saat Haji atau Umroh, beli saja yang baru kemudian barang yang rusak tersebut dibawa ke Indonesia untuk diperbaiki. Selain itu harga jam tangan atau eletronik di negara Saudi Arabia tidak jauh berbeda harga dengan Indonesia. Selisihnya mungkin 100 – 200 ribu rupiah saja.

 

Jika kita pandai menawar dan bersabar mencari dari toko ke toko niscaya kita akan mendapatkan barang dengan harga yang murah, karena biasanya orang Arab jika sudah mengatakan haram terhadap barang yang kita tawar berarti mutlak sama sekali tidak bisa berubah harga. Walaupun ada sebagian penjual yang mau menjual harga sesuai tawaran kita.

 

Jadi benar kata orang tau kita dulu, bahwa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain adat lain kebiasaannya. Jika hendak pergi ke negeri orang sebaiknya mencari tau kebiasaanya karena setiap negeri memiliki kebiasaan dan selera yang berbeda.Kalau kita sudah tau semua maka kita akan nyaman walaupun berada di negeri orang.

 

18
dennistutuko