BENARKAH HAJI DAN UMROH BERKALI KALI PENGABDI SYAITHAN

1 min read

BENARKAH HAJI DAN UMROH BERKALI KALI  PENGABDI SYAITHAN

Rasa rindu merupakan fitrah dari seorang manusia, perasaan rindu, Allah berikan ini kepada manusia sebagai bentuk kemulyaan dan anugrah yang begitu besar, karena tanpa rasa rindu tentu kita tidak akan pernah bersholawat kepada Nabi Muhammad, tanpa rasa rindu tentu akan mengurangi semangat untuk menuju Syurga, tanpa rasa rindu tentu kita tidak akan merasakan nikmatnya berduaan dengan Allah Swt.

 

Begitu pula setiap manusia yang didalam diri dan jiwanya penuh dengan keimanan, pasti memiliki rasa rindu ingin bisa menatap Baitullah rindu ingin berziarah ke makam Rosulullah, rasa rindu ingin duduk berdoa di Raudhoh Masjid Nabawi. Barangkali itulah sebuah alasan mengapa ada sebagian umat Islam yang begitu semangat pergi haji dan Umroh hingga berkali kali dalam hidupnya. Salahkah jika ada umat Islam yang rindu kepada Baitullah dan Rosulullah?

 

Karena tidak ada kenikmatan di dunia ini yang bisa menandingi saat kita beribadah Haji dan Umroh, sampai ada sebagian umat Islam yang rela mengorbankan harta hanya untuk mengharap Ridho Allah dibalik keberangkatannya menuju Baitullah. Dunia yang dicari adalah sebuah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan utama dalam hidup.

 

Sungguh sangat disayangkan jika ada segelintir umat Islam yang menganggap pergi Haji dan Umroh berkali kali adalah pengabdi syaithan, hanya dengan alasan ini budaya konsumtif dan menghambur hamburkan uang tanpa ada tuntunan dan petunjuk dari Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Jelas pernyataan tersebut sebenarnya melukai hati umat Islam yang tertanam didalam jiwanya kerinduan kepada lezatnya beribadah Haji dan Umroh.

 

Abdullah bin Umar menurut Imam nawawi dalam kitab Bustanul Arifin melaksanakan Umroh sebanyak 100 kali dan Haji sebanyak 60 kali dalam hidupnya, dan beliau wafat dalam usia 84 tahun. Kemudian Bunda Aisyah istri Rosulullah Saw melaksanakan Umroh sampai 2 kali. Walaupun Rosulullah dalam hidupnya hanya melakukan Umroh hanya 1 kali.

 

Namun kita sama sama tau bahwa segala perbuatan Rosul adalah sumber hukum, jika Rosulullah melakukan Haji dan Umroh berkali kali, maka khawatir nanti akan jadi sebuah hukum bagi umatnya. Oleh sebab itu larangan dan pernyataan haji dan Umroh berkali kali sebagai pengabdi syaithan ini hendaknya diralat kembali, karena bisa menimbulkan kebingungan umat.

 

Syaikh Athiyah, Mufti Al azhar Mesir juga memberi fatwa bahwa diperbolehkan seseorang melaksanakan Umroh berkali kali sebagaimana pendapat mayoritas ulama fiqih. Beliau berkata diakhir fatwanya :

 

“jikalau seseorang ingin menghadiahkan pahala Umrohnya untuk orang yang telah meninggal dunia maka hal ini tidak dilarang sama sekali, setiap pendekatan diri kepada Allah yang pahalanya dihadiahkan oleh seseorang  untuk orang yang telah meninggal dunia, berharap intifa’ atau mengambil manfaat maka hal ini pun tidak dilarang “

 

Entah kenapa timbul fatwa pengabdi syaithan baru muncul sekarang ditengah berbondong bondongnya umat Islam ke tanah suci, padahal kebiasaan yang bagus ini seharusnya didukung, daripada umat Islam berbondong bondong pergi ke Makau atau Bangkok. Bukankah lebih baik umat ini punya kebiasaan pergi ke Makkah dan Madinah. Padahal Imam Ibnu Hajar sendiri menyikapi hadist yang di riwayatkan Turmudzi No 810 dan Ahmad No 3669 menyatakan bahwa memperbanyak melaksanakan Umroh merupakan sebuah perkara yang sangat dianjurkan.

 

Jadi sebaiknya kita yang ingin melaksanakan Haji dan Umroh kembali tidak perlu ragu dan takut dianggap pengabdi syaithan, sebab banyak ulama yang berada dibelakang kita. Perbedaan pendapat adalah merupakan hal yang biasa, bukan sesuatu yang perlu dicemaskan.

16
dennistutuko